SEJARAH, FILSAFAT DAN KITA

Waktu membaca 2 menit

Beberapa catatan tentang problematika kontemporer tradisi kekinian ( mengapa tradisi islam Nusantara harus tampil masa kini ?)

Sejarah merupakan sebuah kenangan, proses kejadian yang terjadi pada masa lampau senada dengan itu perlu kiranya membangun kembali puing- puing ingatan untuk melihat sejarah yang terjadi pada waktu lalu dan dikaitkan dengan realita yang terjadi sekarang atau istilah kerennya Zaman NOW.

Dalam buku Al- Jabiri Eropa dan Kita pembahasan yang sampai dengan 543 halaman ini dirasa sangat sulit bagi pembaca untuk benar memahami apa substansi yang ingin disampaikan oleh al- jabiri,  karena perlu kiranya waktu yang cukup Panjang dengan ditemani secangkir kopi hangat untuk bisa rilek dan fokus mendalami setiap frase kata dalam buku tersebut. Pada pembahasan terakhir tentunya merupakan pembahasan yang sangat penting setelah menyelami beberapa judul pembahasan yang telah sama sama didiskusikan pada kajian saung institute.

Dipembahasan awal pada bab sepuluh terlihat perbincangan hangat antara sejarawan dan filsuf masing- masing memiliki argument yang kuat tentunya namun pada kenyataannya tetap mengeluhkan antara intervensi para filsuf mengenai hubungan sejarah dan filsafat. “ sempitnya wawasan seorang sejarawan ”, lontaran keras yang disampaikan oleh para filsuf disebabkan sejarawan selalu disibukan dengan urusan- urusan particular – individual dan juga suka memecah belah obyek kajian yang dilihat oleh para filsuf, namun lontaran tersebut ditolak keras oleh para sejarawan mereka menjawab sebaliknya dengan mengatakan : ” sejarah filsafat mengidap sejumlah penyakit yang menyergap setiap kerja spekulasi, karena melakukan generalisasi terburu- buru suka membesarkan satu pemikiran, lalu menghakimi segenap peristiwa masa lalu ke dalam satu hukum atau vonis ungkapan.

Untuk menjawab ketegangan yang terjadi antara para filsuf dan sejarawan kita harus meminta bantuan kepada filsafat dan sejarah sekaligus. Dalam hal ini penyaji mencoba meruntutkan ke dalam beberapa hal yang setidaknya dapat sedikit memberikan jawaban walaupun terhadap ketegangan ini. Mengenai awal munculnya filsafat sejarah, pada tahun  1744- 1803 Johan Gottfried von Herder menerbitkan sebuah buku “ ide- ide tentang filsafat sejarah kemanusiaan ” pada tahun 1784. Itu adalah momen kelahiran resmi dalam pemikiran barat – apa yang disebut filsafat sejarah. Setelah herder munculah Hegel yang mentrasnformasi pemahaman herder dengan mengartikan bahwa filsafat sejarah adalah pembahasan kritis tentang kekhususan penalaran sejarah dan analisis atau berbagai metode yang dipakai para sejarawan. Dan tentunya masih banyak kritik lainnya mengenai sejarah dan filsafat.

Pada ujung tulisan ini penulis ingin sedikit membahas mengenai tradisi islam Nusantara di masa kini. Dan perlu kiranya kita fahami bahwa islam Nusantara bukanlah ingin merubah tatanan islam secara aqidah syar’iyah akan tetapi menampilkan trend Islam yang kekinian selaras dengan zaman atau konteksnya di masa kini dengan tetap menjaga pondasi – pondasi aqidah yang telah disepakati pada masa klasik walaupun tak lepas dengan ijtihad baru yang muncul namun pada dasarnya tetap saja berpondasi pada salafusshalih  seperti cerita kiai Chudori yang lebih mengutamakan untuk membeli gamelan dari pada untuk pembangunan mesjid ketika rebutan mengenai dana desa. Hal ini tidak bisa difahami secara tekstual tentunya, apa makna yang tersirat pada cerita tersebut akan sama sama didiskusikan pada kajian saung sore ini.

Ada banyak hal yang perlu kita bahas pada kajian kali ini, namun penyaji belum bisa menjawab dan menjabarkannya secara terperinci. Untuk itu penyaji mengundang dengan hormat para pembaca yang ilmiah untuk ikut gabung berdiskusi ria menjawab setiap ketegangan- ketegangan yang telah digambarkan oleh penulis di awal hingga bisa menjadi sebuah kesimpulan. Karena pembaca yang baik adalah pembaca yang mau mendiskusikan hasil bacannya.

Oleh : Ahmad Hudori ( Penggiat kajian saung dan seorang mahasiswa IAT UIN Jakarta )

Bagikan...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *