MADILOG; KITAB PANDUAN HUKUM BERPIKIR KAUM PROLETAR

Waktu membaca 2 menit

Oleh M. Syarofuddin Firdaus

Kurang lebih selama dua puluh tahun Tan Malaka diasingkan ke berbagai daerah di Asia Raya. Dari tahun 1922 hingga 1942 dia ‘dibuang’ ke luar Indonesia oleh pemerintahan Belanda akibat ulahnya. Yang menarik perhatian adalah kecintaan Tan Malaka terhadap pengetahuan. Terbukti misalnya pada pembuangan yang pertama, dia diiringi satu peti besar yang berisikan buku. Kendati demikian, kisah hidup Tan Malaka dengan buku tidak selamanya mulus.

Di beberapa tempat pembuangan, seperti ketika di Shanghai pas perang Jepang – Tiongkok buku-buku Tan Malaka hangus tanpa sehelai kertas yang tersisa. Namun kejadian tersebut tidak menyurutkan dia untuk senantiasa mencari kembali buku-buku yang pernah dibacanya, terutama buku yang sesuai dengan kecenderungannya seperti buku-buku marxis.

Seiring dengan pembuangan tersebut, Tan Malaka berencana hendak menulis topik yang selama ini mengusiknya. Ada tiga topik besar yang akan dituangkannya dalam bentuk buku. Namun karena situasi tidak memungkinkan, maka Malaka hanya menyimpan topik tersebut dalam idenya, di dalam pikirannya. Ketiga topik tersebut adalah:

  1. Hukum kaum Proletar berpikir, yang sekarang saya namai “Madilog”
  2. Federasi Aslia adalah potongan dari Asia – Australia, yakni Federasi dari segala negara pada jembatan antara Asia dan Australia dengan kepalanya di Asia dan Australia
  3. Beberapa pengalaman saya yang boleh menjadi pengetahuan dan nasihat buat mereka yang suka menerima

Setelah balik ke Indonesia, topik yang digarap pertama kali adalah Madilog; Mater, Dialectica, Logica. Topik ini dilatari atas pengamatan Tan Malaka terhadap cara berpikir masyarakat Indonesia, khususnya kaum proletar yang bertumpu pada logika supranatural, yang begitu memercayai pada tahayul, kegaiban, berdasarkan pada roh-roh (halus). Sebab logika tersebut memiliki cacat dari segi ilmu pengetahuan dan (bisa pula) kebenaran. Cacatnya adalah terletak pada dasar yang menjadi pijakan berpikir sehingga beranjak pada satu kesimpulan sebagai sebuah kebenaran yang diyakini.

Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan oleh Malaka sendiri bahwa Madilog ini bukan sebagai Weltaschauung (pemandangan dunia), melainkan sebagai cara berfikir yang memiliki landasan kuat berupa benda (matter) atau barang yag ditemukan di atas dunia ini. Matter atau benda ini sebagai bukti nyata akan kehidupan yang dihadapi oleh kaum proletar setiap harinya, entah itu berupa barang maupun fenomena sosial dan/atau politik. Jadi, kaum proletar tidak lagi melulu menyelesaikan persoalan atau mencari kebenaran berdasarkan pikiran atau roh semata-mata.

Dengan begitu, nanti akan terjadi persinggungan (dialektika) yang mengadu antara satu kasus dengan kasus lain, sehingga kaum proletar mampu mencermati indikator-indikator yang mengarah pada kesimpulan yang bisa menyesuaikan dengan kondisinya. Mengenai dialektika ini Malaka mengilustrasikan sebagai berikut:

“Kalau si anak menangis, si ibu memberikan air susunya dengan segera. Dia tidak pikirkan lebih dahulu bahwa pengertian menangis itu mengandung pengertian tertawa, yang satu sama lainnya tidak boleh dipisahkan, seperti dalam cara berpikir yang berdasarkan dialektika.”

Dalam logika, selaku cara berpikir, menganut paham akan keteraturan berpikir dalam menyikapi persoalan. Dan sering kali, melalui (ilmu) logika ini hasil yang dibuahkan sesuai dengan budaya dan akal sehat orang Barat. Maka dari itu, ilmu ini memiliki posisi penting bagi mereka, dan mengalami kemajuan yang cukup pesat pada zaman sekarang, dengan adanya ragam disiplin ilmu.

Berbeda dengan orang Timur, khususnya orang Indonesia yang begitu ‘menuhankan’ kegaiban, tahayul, sehingga menganggap logika sebagai barang baru, yang mesti dikaji dan dipelajari seiring dengan dialektika dan materialisme. Melalui buku Madilog inilah Malaka berupaya mengajak masyarakat Indonesia untuk memahami dan menggunakan logika sebagai cara berpikir. Meskipun dengan tanpa menghilangkan budaya ‘logika supranatural’ yang memang menjadi identitas orang Timur.

Bagikan...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *